Bapperida Purworejo Selenggarakan FGD Penyusunan Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo

By bidang_epw 10 Nov 2025, 15:53:51 WIB Bidang PPMPSDAIK

Berita Terkait

Berita Populer

Bapperida Purworejo Selenggarakan FGD Penyusunan Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo

PURWOREJO - Dalam rangka mendukung arah pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal, Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) bekerja sama dengan Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, telah melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Tahap I sebagai bagian dari proses penyusunan Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo. Acara yang dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 10 November 2025 dan bertempat di Ruang Rapat Bapperida ini diikuti oleh perwakilan dari DPUPR, Dinperkimtan, Dinas LHP, Dinporapar, Bagian Perekonomian dan SDA Setda, bagian administrasi pembangunan Setda, Camat Purwodadi, Camat Grabag, Camat Ngombol, UMP, dan Kades dari Desa yang masuk deliniasi wilayah perencanaan masterplan (kawasan pesisir selatan Kabupaten Purworejo). 

Pelaksanaan FGD Tahap I bertujuan untuk menghimpun data, informasi, dan masukan dari pemangku kepentingan terkait potensi, permasalahan, dan isu strategis pengelolaan kawasan pesisir; menyusun kerangka konseptual dan metodologi penyusunan masterplan berbasis ekologi, sosial-ekonomi, dan tata ruang; serta menetapkan fokus isu-isu utama yang akan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pengelolaan dan zonasi kawasan pada tahap perencanaan berikutnya. Wilayah studi Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo mencakup tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Grabag, Kecamatan Ngombol, dan Kecamatan Purwodadi, dengan total 13 desa dan luas area ±432,73 hektar. Adapun batas-batas wilayah perencanaan adalah sebagai berikut: Utara : Jalan Daendels (Jalur Lintas Selatan Jawa); Timur : Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; Selatan : Samudra Hindia dan Barat : Kabupaten Kebumen. Wilayah ini memiliki karakteristik geomorfologi berupa dataran pantai dan endapan pasir pantai (coastal deposit) yang rentan terhadap erosi dan intrusi air laut, namun memiliki potensi besar bagi pengembangan budidaya perikanan (tambak udang vaname), ekowisata bahari, serta pertanian hortikultura pantai.

Kegiatan FGD Tahap I difokuskan pada empat komponen utama, yaitu kajian kebijakan, gambaran umum kawasan, identifikasi potensi dan permasalahan, serta perumusan isu strategis awalBerdasarkan hasil kajian terhadap RTRW Kabupaten Purworejo Tahun 2021–2041, RPJMD 2025–2029, serta RZWP3K Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022, kawasan pesisir selatan Purworejo diarahkan sebagai bagian dari Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK I) dan memiliki fungsi strategis sebagai pintu gerbang ekonomi, pariwisata, dan logistik yang berdekatan dengan Kawasan Yogyakarta International Airport (YIA)Namun demikian, implementasi kebijakan masih memerlukan integrasi lintas sektor, terutama antara aspek lingkungan, perikanan, dan tata ruang wilayah pesisir. Berdasarkan hasil analisis citra spasial dan data topografi, kawasan pesisir memiliki kemiringan lereng 0–8% dengan elevasi rendah (<200 mdpl). Kondisi ini mendukung pengembangan pertanian dan permukiman, namun sangat rentan terhadap rob dan abrasi. Jenis tanah dominan berupa Regosol Kelabu dengan daya ikat air rendah. Di sisi lain, kawasan ini memiliki tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yakni DAS Bogowonto, DAS Cokroyasan, dan DAS Wawar, yang berperan penting dalam sistem hidrologi dan irigasi pesisir.
Struktur ekonomi Kabupaten Purworejo didominasi oleh sektor pertanian, dan perikanan, dengan kontribusi signifikan dari budidaya udang sebagai komoditas unggulan. Terdapat sekitar 380 petambak udang aktif di sepanjang garis pantai selatan. Selain itu, kawasan pesisir memiliki 5 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang mendukung aktivitas ekonomi nelayan. Di sisi pariwisata, wilayah pesisir mencakup 13 destinasi wisata pantai, tujuh di antaranya dikategorikan sebagai destinasi unggulan, seperti Pantai Jatimalang, Ketawang, Keburuhan, Pasir Puncu, Jetis, Genjik, dan Jatikontal.

Adapun Permasalahan dan Isu Strategis di wilayah study diantaranya terjadinya abrasi dan intrusi air laut yang mengancam lahan tambak dan permukiman; keterbatasan infrastruktur dasar (akses jalan, sarana sanitasi, dan pengelolaan persampahan); ketidakterpaduan antarsegmen kawasan pesisir yang menghambat pengembangan potensi ekonomi lokal; rendahnya kualitas lingkungan akibat aktivitas tambak intensif dan limbah domestik; dan minimnya kelembagaan pengelolaan pesisir terpadu yang melibatkan masyarakat.

Berdasarkan hasil analisis awal FGD, dirumuskan konsep besar pengembangan kawasan pesisir dengan pendekatan ekowisata bahari berbasis suaka pesisir untuk mewujudkan ketahanan ekologi dan ekonomi wilayah.
Arah pengembangan tersebut mencakup: a) 
Zona Pariwisata: Pengembangan destinasi wisata berbasis alam, budaya, dan edukasi lingkungan dengan konsep eco-marine tourism di desa-desa seperti Ketawangrejo, Patutrejo, dan Keburuhan. b) Zona Perikanan dan Budidaya: Penerapan sistem silvofishery (kombinasi budidaya udang dengan konservasi mangrove) untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem; c) Zona Suaka Pesisir: Pembangunan green belt dan vegetasi sabuk hijau sebagai pelindung alami terhadap abrasi dan intrusi air laut; d) Zona Edukasi dan Sosial Ekonomi: Peningkatkan peran UMKM lokal untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam rantai ekonomi pesisir yang inklusif. Sebagai tindak lanjut FGD Tahap I, akan dilaksanakan FGD Tahap II yang berfokus pada: Validasi hasil pemetaan potensi dan permasalahan spasial; Penyusunan zoning plan terintegrasi dengan arahan RTRW dan RZWP3K; Perumusan action plan (rencana aksi) pembangunan dan program prioritas kawasan pesisir selatan untuk periode menengah dan panjang.(/fse)