Expose Laporan Pendahuluan Penyusunan Kajian Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo

By bidang_epw 26 Agu 2025, 12:51:30 WIB Bidang PPMPSDAIK

Berita Terkait

Berita Populer

Expose Laporan Pendahuluan Penyusunan Kajian Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo

PURWOREJO - Pada hari Jum'at, tanggal 22 Agustus 2025, Bapperida menyelenggarakan expose Laporan pendahuluan Penyusunan Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo, bertempat di Ruang Rapat Bapperida Kabupaten Purworejo. Penyusunan dokumen tersebut dilatarbelakangi dari kebutuhan strategis daerah dalam mengelola potensi sekaligus menghadapi tantangan kawasan pesisir yang rentan bencana. Secara geografis, Purworejo terletak di pesisir selatan Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Kondisi ini memberikan peluang pengembangan ekonomi melalui sektor perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut, dan pemanfaatan ruang pesisir. Namun demikian, posisi tersebut juga memunculkan berbagai kerentanan ekologis berupa degradasi lingkungan dan dampak perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan ekosistem, permukiman, dan infrastruktur. Dalam konteks tata kelola wilayah, hingga saat ini Purworejo belum memiliki rencana detail yang mengintegrasikan seluruh kawasan pesisir secara menyeluruh. Oleh karena itu, masterplan diperlukan sebagai dokumen strategis yang berfungsi sebagai pedoman pembangunan jangka menengah–panjang. Penyusunan masterplan dilakukan dengan prinsip ekologis, adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan, melalui integrasi pendekatan tata ruang, sosial-ekonomi, mitigasi bencana, serta pemberdayaan masyarakat lokal

Penyusunan masterplan dimaksudkan untuk merumuskan arahan pembangunan kawasan pesisir secara sistematis, berbasis data ilmiah, serta berorientasi pada keberlanjutan. Tujuan utama meliputi: a) Penyediaan informasi spasial dan nonspasial yang akurat sebagai dasar perumusan kebijakan; b) Identifikasi potensi, permasalahan, dan isu strategis melalui kajian akademis dan partisipatif; c) Perumusan visi, misi, dan arah kebijakan pembangunan pesisir yang berbasis ekosistem; d) Penyusunan rencana pengembangan ruang, sosial-ekonomi, infrastruktur, serta pengelolaan lingkungan; e) Penetapan program prioritas dan rencana aksi dengan kerangka waktu implementasi yang terukur. Kawasan yang menjadi cakupan masterplan meliputi tiga kecamatan, yaitu Grabag, Ngombol, dan Purwodadi. Kawasan ini termasuk strategis karena dilalui oleh Jalur Lintas Selatan (Pansela) dan berada dekat dengan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mengintegrasikan industri, pariwisata, perikanan, dan logistik.

Materi penyusunan masterplan meliputi enam tahap pokok: a) Persiapan: koordinasi awal, metodologi, inventarisasi, dan analisis data; b) Kajian Teknis–Akademik: mencakup daya dukung–daya tampung lingkungan, kerawanan bencana, ekosistem kritis, potensi ekonomi kelautan (perikanan, wisata, jasa lingkungan), serta kondisi sosial-budaya; c) Perumusan Visi–Misi: penetapan arah pembangunan berbasis lingkungan dan masyarakat disertai indikator kinerja; d) Rencana Masterplan: perumusan struktur ruang dan zonasi (konservasi, budidaya, pariwisata, pemukiman), pengembangan infrastruktur–utilitas, strategi mitigasi–adaptasi bencana, serta pendekatan ekonomi biru; e) Program dan Aksi: penyusunan prioritas pembangunan, pembiayaan, kelembagaan, serta tata kelola implementasi; f) Validasi dan Finalisasi: melalui mekanisme konsultasi publik, uji akademik, revisi multipihak, serta penyusunan ringkasan eksekutif dan visualisasi rencana.

Masterplan disusun dengan merujuk pada kerangka regulasi yang berlaku, antara lain: a) RTRW Provinsi Jawa Tengah dan RTRW Kabupaten Purworejo yang mengatur sistem pusat permukiman, jaringan transportasi, struktur ruang, dan pola ruang pesisir; b) RPJMD Provinsi dan Kabupaten, yang menggariskan program quick wins seperti pengembangan geotourism, peningkatan produksi-hilirisasi pertanian, serta pengembangan industri berbasis investasi; c) Peraturan Daerah tentang Pembangunan Industri dan Kepariwisataan, yang menekankan arah pengembangan kawasan pesisir sebagai pusat industri, wisata alam, budaya, dan ekowisata. Keterkaitan kebijakan ini menegaskan bahwa pesisir Purworejo tidak hanya dipandang sebagai ruang lokal, tetapi juga sebagai kawasan strategis nasional dan regional yang terhubung dengan Borobudur, Dieng, Yogyakarta, serta jaringan ekonomi lintas Jawa.

Dari sisi biofisik, kawasan pesisir Purworejo memiliki karakteristik tanah regosol coklat dan kelabu dengan drainase baik namun daya ikat air rendah, sehingga rawan kekeringan. Secara geologi, wilayah ini didominasi oleh endapan pantai (coastal deposit) yang mudah tererosi. Morfologinya berupa dataran rendah dengan elevasi <200 meter, berlereng landai 0–8%, sehingga rawan genangan, rob, dan abrasi. Selain itu, terdapat tiga DAS utama—Bogowonto, Cokroyasan, dan Wawar—yang bermuara ke Samudra Hindia. Hal ini menjadikan pesisir sebagai hilir DAS yang rentan banjir, namun juga kaya sumber air irigasi. Kondisi kualitas air tanah bervariasi dari kategori baik hingga sedang, dengan potensi intrusi air laut.

Struktur ekonomi Kabupaten Purworejo didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Di kawasan pesisir, komoditas unggulan adalah perikanan tangkap (ikan pelagis dan demersal) serta budidaya udang vaname. Dari aspek pariwisata, terdapat desa wisata bahari (Ketawangrejo) serta Taman Edukasi Mangrove (TEM) yang berfungsi sebagai sarana konservasi sekaligus destinasi wisata. Tantangan sosial utama adalah fluktuasi angka kemiskinan. Walaupun sempat menurun sejak 2016, angka kemiskinan meningkat kembali pada 2020–2021, sebelum menurun lagi pada 2024. Hal ini menunjukkan adanya kerentanan ekonomi masyarakat pesisir yang perlu diatasi melalui diversifikasi usaha, peningkatan produktivitas, serta penguatan kelembagaan lokal.

Penyusunan Masterplan Kawasan Pesisir Selatan Kabupaten Purworejo menjadi instrumen penting untuk menjawab kompleksitas potensi dan permasalahan kawasan. Dokumen ini akan menjadi pedoman yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial-ekonomi, infrastruktur, budaya, dan kebencanaan dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, masterplan diharapkan dapat mewujudkan kawasan pesisir Purworejo yang produktif, tangguh, berdaya saing, serta tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam.(/fse)